HINDU SOPOYONO: Sloka 227-299 Sarasamuscaya
OM SVASTI ASTU - SELAMAT DATANG DI SOPOYONO BLOGSPOT
“Aku hendak membagikan apa yang kudengar – itupun jika kau mengizinkan!”

Selasa

Sloka 227-299 Sarasamuscaya


ETIKA ANAK TERHADAP ORANG TUA
  1. Jangan hendaknya anda menjadikan ayah dan ibu anda layakya pembantu atau tukang masak, jangan makan sebelum ayah dan ibu anda makan, mereka yang baru makan setelah mendapat ijin dari ayah dan ibunya akan hidup dalam kesejahteraan di alam fana dan akherat.
  2. Seorang putra sejati adalah mereka yang melindungi orang-orang yang kesusahan, menyelamatkan orang-orang yang sengsara, dan bersedekah kepada orang-orang miskin.
  3. Seorang putra sejati adalah orang yang menjadi pelindung dari sanak saudaranya, ia hendaknya seperti Indra dewa hujan yang melindungi dan memelihara kelangsungan hidup di bumi, bagaikan pohon-pohon yang menjadi habitat burung-burung; demikianlah ia hendaknya menjadi sumber kehidupan dari orang-orang seisi rumahnya.
  4. Jika ada orang kaya yang tidak suka membantu sanak saudaranya, bahkan mereka membiarkan keluarganya hidup terlantar dan miskin; orang kaya yang seperti ini sungguh-sungguh berkeadaan hina di hadapan Tuhan.
  5. Ada empat kriteria orang yang patut diajak tinggal didalam rumah anda, diantaranya: 1) seorang kerabat yang menderita; 2) orang bajik yang jatuh sengsara; 3) sahabat yang miskin; 4) adik perempuan yang mandul atau disia-siakan suaminya.
  6. Sedangkan yang tidak patut diajak berdiam didalam rumah adalah: 1) orang yang pemalas; 2) orang yang rakus; 3) orang yang berkepribadian tercela; 4) orang yang licik; 5) orang yang selalu menentang peraturan; 6) orang yang tidak perduli keselamatan orang lain; 7) orang yang tidak tahu kelayakan waktu dan tempat; dan 8) orang yang suka berpakaian tidak senonoh.
  7. Janganlah ragu-ragu untuk mengajak seorang rohaniawan yang suci untuk tinggal dalam rumah anda, seorang guru yang memahami ilmu pengetahuan, siswa yang berbudi luhur, saudara sedarah, kerabat dan sahabat yang berkelakuan baik.
  8. Jika ada orang yang dengan pikiran, perkataan, dan perbuatannya menghianati guru, menghianati ibu dan ayahnya, dosa mereka ini sangatlah besar, bahkan lebih besar dari dosa akibat menggugurkan kandungan.
  9. Ibu dan ayah adalah sumber dari kehidupan, sedangkan guru adalah sumber pengetahuan rohani yang mengajarkan hakekat hidup.
  10. Guru terlebih dahulu dihormati sebagai penuntun hidup dan kehidupan, sebagai pemberi pengetahuan dan kerohanian, berikutnya hormatilah ibu dan ayah sebagai orang yang melahirkan dan menghidupi secara material.
  11. Janganlah menjawab pertanyaan guru dengan cara bercanda, apabila beliau bersedih, gusar, dan marah, hiburlah dengan kata-kata yang manis menyegarkan.
  12. Janganlah menghina guru jika beliau ada kesalahan, sebab orang yang menghina gurunya akan dijauhkan dari hakekat hidup, berumur pendek dan masuk neraka.
  13. Mereka yang hormat kepada ayah dan ibunya, berkeadaan sama dengan seorang brahmana/spiritualis yang teguh dengan tapanya, kuat menjaga kesucian dan berada pada jalan kebajikan dan kebenaran.
  14. Sebab seorang ibu menanggung kewajiban yang lebih berat dari pada bumi, sedangkan seorang ayah berfikir lebih tinggi dari langit, lebih cepat dari angin, dan lebih banyak dari rumput demi kesejahteraan dan keselamatan anak, istri, dan keluarganya. Menyadari itu, seorang anak hendaknya menghormati dan bakti secara bersungguh-sungguh kepada orang tuanya.
  15. Barang siapa bakti tulus kepada orang tuanya dan selalu berusaha untuk menyenangkan serta memuaskan hati mereka, orang tersebut akan terpuji dan menjadi bajik.
  16. Yang tergolong ayah adalah: orang yang memberikan tubuh, yang memberikan hidup (ayah biologis), yang memberi makan, dan yang mengasuh.
  17. Seorang anak hendaknya membuat ayahnya puas, sedangkan kewajiban ayah adalah selalu berusaha untuk mensejahterakan anaknya.
  18. Baik pintar atau bodoh, berprilaku bajik atau jahat, kaya atau miskin; cinta seorang ibu sama dan tidak pernah berkurang.
  19. Seorang ayah, seberapa miskinpun keberadaannya, ia akan selalu berusaha untuk mencari penghidupan untuk anak-anaknya dan berusaha untuk menyenangkan mereka dengan pemberian dan hadiah.
  20. Seorang anak yang tidak menyia-nyiakan hidup ibunya setelah tua, tidak meninggalkan ibunya, setia dan bakti dengan hati yang tulus, anak yang memperlakukan ibu layaknya Dewa, pasti akan berumurpanjang dan memperoleh ganjaran surga di alam akherat.
  21. Anak yang ditinggal ibunya atau yang mengusir ibunya, anak yang seperti ini seberapapun kayanya adalah orang yang miskin, seberapapun bahagianya adalah orang sengsara, bagi mereka dunia akan menjadi sangat sepi walau berada dalam hiruk-pikuk keramaian.
  22. Oleh karenanya, baktilah pada orang tua bahkan sembahlah mereka dengan ketulusan hati. Jika diminta atau jika tidak diminta sekalipun, tawarkan terlebih dahulu keinginan untuk mengantar kemanapun beliau hendak pergi, jika berkenan antarlah beliau dengan hati yang tulus.
  23. Jika berhadapan dengan orang tua (ayah/ibu), si anak akan kehilangan jiwanya, tapi jika si anak sujud dengan hormat kepada orang tuannya, kembalilah jiwa si anak ketubuhnya.
  24. Jika seorang anak bakti tulus kepada orang tuannya, mereka akan memperoleh empat macam pahala berupa: 1) pujian; 2) hidup bahagia dan panjang umur; 3) teman yang setia dan kekuasaan; 4) jasa dan pertolongan
  25. Orang yang santun adalah orang yang menyesuaikan diri dengan aturan norma dan etika yang berlaku dimasyarakatnya; demikian juga hendaknya prilaku disesuaikan dengan umur; perilaku dan umur disesuaikan dengan harta kepunyaan; umur, prilaku dan harta, disesuaikan dengan pakaian dan perhiasan yang dipergunakan. Orang yang mampu menyesuaikan semuanya adalah orang yang berkeadaan sadar.
  26. Hendaknya manusia senantiasa berusaha untuk menyenangkan hati dari semua orang, terutama orang-orang yang sedang kelelahan, orang yang sedang sakit, orang yang terhina dan dikucilkan, orang yang hidup miskin, orang yang sedang ketakutan, orang yang kelaparan, serta orang yang sedang menderita bencana, musibah atau nasib malang.
  27. Hilangkanlah kemalasan dan keengganan hati, berusahalah untuk belajar prihal kebajikan dan kebenaran dari kitab suci, kitab hukum, norma dan kesusilaan. Berlatihlah kebijaksanaan untuk menjadi manusia bajik dan benar.
  28. Sebab jika tersesat dari kebijaksanaan, sia-sialah kebajikan dan kebenaran yang telah dilakukan, kelak pahala dari perbuatan yang positif tidak akan mungkin diperoleh. Akan halnya orang yang teguh dalam kebijaksanaan, sempurnalah segala perbuatan bajiknya.
  29. Hendaknya seorang suami dan istri yang menghendaki hidup langgeng dalam berumah tangga, menghindari untuk melakukan senggama pada bulan mati (tilem), paruh terang dan paruh gelap ke delapan (8), paruh terang dan paruh gelap ke empat belas/14 (prewani) serta pada bulan purnama.
  30. Jika ingin memperoleh surga hendaknya janganlah minum-minuman keras (termasuk narkoba&obat-obatan terlarang), jangan berbohong, jangan menginginkan pasangan orang (selingkuh), jangan mencuri, jangan menyiksa dan membunuh.
  31. Hendaknya makanlah makanan yang menyehatkan, pakailah pakaian dan perhiasan yang pantas, jangan berfoya-foya dan mabuk-mabukkan, jangan malas dan terlalu banyak tidur, jika masih menginginkan surga.
PENGENDALIAN DAN PENEGUHAN HATI
  1. Selalu berlatih mengendalikan nafsu (yama) dan teguhkan mental (niyama). Mereka yang berlatih mengendalikan nafsu indrawinya namun tidak memiliki keteguhan mental/hati niscaya akan gagal dalam usahanya.
  2. Ada sepuluh brata yang hendaknya dilakukan (yama): 1) jangan mementingkan diri sendiri; 2) tahan menghadapi cobaan hidup; 3) tidak berdusta; 4) tidak menyiksa dan membunuh makhluk hidup; 5) mampu menasehati diri sendiri (belajar dari pengalaman); 6) jujur dan selalu berterusterang; 7) berbelaskasih melihat penderitaan manusia dan makhluk hidup lainnya; 8) berhati bersih dan berpikir jernih; 9) berekspresi dan bertuturkata manis; dan 10) berbudi halus.
  3. Sepuluh brata yang hendaknya di kerjakan (niyama): 1) sedekah; 2) sembahyang; 3) pengekangan nafsu; 4) perenungan; 5) mempelajari kitab suci; 6) pengendalian birahi; 7) keteguhan hati; 8) puasa; 9) pegendalian kata-kata; 10) penyucian diri lahir batin.
KEKAYAAN
  1. Harta yang diperoleh haruslah berlandaskan pada kebajikan dan kebenaran. Setelah keuntungan/hasil usaha diperoleh, hendaknya penggunaannya dibagi dalam tiga kategori.
  2. Bagian pertama untuk mengamalkan kebajikan dan kebenaran; bagian kedua untuk memenuhi hidup, kesenangan dan rekreasi; sedangkan bagian ke tiga untuk menjaga kelangsungan usaha.
  3. Keuntungan usaha yang berlandaskan pada kebajikan dan kebenaran akan melahirkan kebahagiaan surgawi; sedangkan keuntungan yang diperoleh dari cara-cara licik dan jahat akan melahirkaan kesengsaraan dan neraka.
  4. Jika ada orang mencari untung dari tindakan-tindakan licik dan jahat, lalu ia mendermakannya untuk tujuan-tujuan baik; lebih baik jangan melakukan usaha itu walau dengan tujuan-tujuan mulia; sebab keberadaannya sama saja dengan mencemari sesuatu yang bersih dengan sesuatu yang kotor.
  5. Karena harta kekayaan yang suci adalah harta kekayaan yang diperoleh dari cara-cara bajik dan benar; harta kekayaan kotor adalah harta kekayaan yang diperoleh dengan cara-cara keji dan jahat.
  6. Hendaknya jangan pernah menginginkan harta kekayaan yang diperoleh dengan cara licik dan jahat, seperti uang hasil penyimpangan hukum dan uang pemberian musuh.
  7. Orang mulia sekalipun, jika berkeinginan untuk merampas harta orang lain, niscaya akan hilanglah kearifannya. Apabila kearifan itu telah hilang, maka lenyap jugalah kemuliaan dan keagungannya.
  8. Tiga merupakan tujuan hidup ini, yakni kebajikan/kebenaran, harta/kekayaan, dan kesenangan/keamanan; janganlah hendaknya ketiga dari tujuan hidup itu dikotori oleh kejahatan.
  9. Jangan biarkan waktu itu berlalu tanpa guna, manfaatkanlah waktu itu agar berdayaguna dan bermanfaat; akan sangat tepat jika waktu itu dipakai dalam pelaksanaan kebajikan sekaligus pencarian harta dan perolehan kesenangan. Siapa yang tahu batas hidup dan mati? Oleh karenanya maanfaatkanlah dengan sebaik-baiknya waktu itu, jangan menunda-nunda dan membuang-buang waktu, mumpung masih hidup.
  10. Orang yang gagal dalam pelaksanaan kebajikan/kebenaran, gagal dalam menyedekahkan harta/kekayaan, gagal dalam memberi kesenangan/keamanan bagi makhluk hidup lainnya, dan juga gagal menuju kemerdekaan batin; tanpa guna keberadaannya di bumi ini, mereka hidup lalu mati dimakan waktu.
  11. Oleh sebab itu, bersedekahlah kepada orang-orang yang patut diberikan sedekah, berikanlah kesenangan kepada orang-orang yang patut memperoleh kesenangan, ingat kematian datang tanpa disangka-sangka.
KESENANGAN
  1. Ada orang yang senang saat ini, saat yang lain tidak senang; ada yang saat lain senang, saat ini tidak senang; ada senang saat ini dan saat yang lain pun senang; ada juga yang tidak senang saat ini pun tidak senang pada saat yang lainnya.
  2. Yang disebut dengan senang saat ini, hidup kaya raya dengan hartanya yang berlimpah ruah, namun haya dinikmati untuk dirinya sendiri dan tidak pernah berkorban untuk kepentingan bajik dan benar. Orang seperti ini disebut dengan senang saat ini saja.
  3. Sedangkan orang yang kontemplatif, berpantang berbuat jahat, tekun dalam ilmu pengetahuan, menguasai hawa nafsu, kasih terhadap semua makhluk. Orang seperti ini akan memperoleh kesenangan disaat yang lain.
  4. Berikut adalah orang yang dinyatakan akan memperoleh kesenangan sekarang dan dikemudian hari: selalu berusaha giat melakukan kebajikan dan kebenaran, dengan kebenaran pula harta kekayaan dicarinya, lalu kenikmatan dinikmatinya dengan cara yang benar, tekun bersembahyang kehadapan Tuhan dan leluhur, bakti kepada orang tua serta orang suci.
  5. Mereka yang tidak mempelajari ilmu pengetahuan, tidak berpantang/puasa, tidak melakukan sedekah, tidak sembahyang, tidak bersyukur, selalu berbuat jahat; mereka yang hidup seperti ini tidak akan memperoleh kesenangan saat ini pun saat yang lainnya.
  6. Mereka yang tidak dirasuki oleh amarah dan kebencian, mereka yang mencintai kebenaran, tetap teguh dalam pengendalian indrawi, mengasihi segala makhluk seperti mengasihi diri sendiri; orang yang melakukan hal tersebut akan memperoleh pahala yang sama dengan orang yang tekun mengunjungi dan bersembahyang ke tempat-tempat suci.
  7. Berikut adalah orang yang akan memperoleh azab yang sama seperti keadaan orang yang tidak bersembahyang dan mengunjungi tempat-tempat suci: tidak penah berpuasa, tidak menyucikan rohani dan jasmani, tidak bersedekah, dan sering berbuat jahat.
  8. Keutamaan berkeliling untuk berkunjung dan sembahyang ketempat-tempat suci keyataannya lebih utama dari kurban, sebab ia bisa dilakukan oleh mereka yang miskin sekalipun; sedangkan kurban hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berharta.
MISKIN
  1. Miskin kebajikan sama dengan kematian; keadaannya bagaikan wilayah luas dengan penduduk yang banyak namun tanpa pemimpin, bagaikan upacara kematian tanpa doa-doa, bagaikan upacara besar tanpa sedekah.
  2. Jika ada orang yang miskin harta dan ia juga suka melakukan tindakan kejam dan jahat, orang seperti ini sesungguhnya telah mati dalam hidupnya.
  3. Orang yang miskin jiwanya (berkepribadian buruk), biarpun ia pandai tidak akan ada yang mengindahkan, walaupun ia berkata benar dan penuh manfaat tidak akan ada yang perduli; apalagi jika si miskin jiwa itu orang bodoh, tentunya tidak akan ada orang yang senang dengannya.
  4. Jika miskin harta, walaupun pintar dan baik hati, sungguh sulit untuk dikenal orang. Jika kaya harta, kebajikan yang dilakukan menjadi sempurna. Inilah alasan kenapa harta itu harus dicari dengan sekuat tenaga.
  5. Orang yang miskin harta demikian juga orang yang cendala sama sama tidak bisa melaksanakan sedekah. Orang cendala sedekahnya tidak diterima sedangkan orang miskin tidak ada kemungkinan untuk bersedekah karena tidak ada yang bisa disedekahkan.
  6. Demikianlah orang miskin harta dan miskin jiwa, rumahnya bagaikan neraka saja keadaannya, sandang, pangan dan papan sulit diperoleh. Inilah alasan kenapa harta dan kebajikan itu sangat penting keberadaannya.
  7. Meskipun si miskin gemuk, tetap tidak ada yang dapat disedekahkan kepada orang-orang yang berkunjung ke rumahnya, inilah alasan lain kenapa harta itu penting untuk dimiliki.
  8. Mereka yang miskin hanya makan jika ada bantuan dari sahabatnya dan sahabatnya itu memenuhi segala keperluan dari si misknin; tapi simiskin tidak mampu membalas kebaikan budi sahabatnya dikarenakan oleh kemiskinannya itu. Orang miskin yang berhati keji, rakus, berbudi pekerti tamak, dan kikir; sesungguhnya telah mati dalam hidupnya.
  9. Mereka yang miskin dari masa kecilnya berkeadaan lebih baik dari orang kaya yang kemudian menjadi miskin, penderitaan teramat berat akan dirasakan oleh orang yang dulunya kaya lalu jatuh miskin; sedangkan mereka yang miskin dari kecil telah terbiasa dengan keadaannya itu.
  10. Biasanya orang kaya saat makannya menyisakan banyak dari makanan yang dimakan lalu dibuang sia-sia, sedangkan simiskin akan makan apapun yang tersedia dan tanpa sisa.
  11. Mereka yang miskin dapat makan enak karena laparnya, sedangkan orang kaya sulit menikmati makanannya karena tidak pernah merasakan lapar.
  12. Kelaparan dapat menutupi kebajikan dan kebenaran, ia juga dapat melenyapkan keteguhan hati, dan lidah selalu ‘ingat’ dengan rasa yang enak inilah yang menyebabkan lapar.
  13. Mereka yang bodoh akan selalu menyesali perbuatan buruknya diwaktu lampau apabila mengalami kesengsaraan saat ini, mereka hanya menyesali saja tanpa pernah berusaha untuk menanam kebajikan dihidupnya kali ini.
  14. Apa sebab orang tidak berhasil dalam pencarian harta dan perolehan kesenangan meskipun telah diusahakan dengan giat; sebab kegagalan usaha dikarenakan dulu ia tidak pernah ‘menanam’ kebajikan dan kebenaran, lalu apa yang dapat dipetiknya sekarang? Walaupun kali ini gagal, sekaranlah kesempatan baik untuk menanam kebajikan dan kebenaran dan pasti akan berbuah kelak dan kita dapat memanennya.
  15. Mereka yang sangat cerdas namun miskin, selalu gagal dalam usahanya dikarenakan oleh kemiskinannya; sebaiknya sumbangkan kecerdasan itu tanpa mengharapkan imbalan apapun, niscaya setelah menabur benih kebajikan dan kebenaran melalui kecerdasannya, lambat laun akan diperoleh juga ‘buah’ dari kebajikan dan kebenaran itu.
  16. Mereka yang tidak memperoleh kesenangan hingga hari tuanya, seolah-olah hidupnya selalu dipenuhi oleh kemelaratan dan kesengsaraan, jangan pernah putus asa dalam pelaksanaan kebajikan dan kebenaran, kelak pastilah memperoleh kesenangan disurga dan kemuliaan dikehidupan berikutnya.
  17. Sebuah pohon kayu yang tumbuhnya condong dan beranting bengkok-bengkok dan tidak subur, lagi pula dimakan rayap, dan menjadi sarang semut batang pohonnya. Kulitnya tergores dan hangus terbakar oleh api kebakaran hutan, tumbuhnya diatas batu dan batangnya tanpa getah lagi karena ia tumbuh ditanah yang gersang, keadaannya sunguh sangat merana. Namun masih lebih merana keadaan orang miskin yang selalu berhara-harap akan sesuatu yang tidak bisa diperolehnya karena miskin, apalagi jika sampai diperbudak oleh harapan-harapannya lalu berbuat jahat.
  18. Mereka yang diperbudak oleh harapan-harapan akan pemberian, akan dipermainkan oleh orang yang diharapkan memberi, disuruh kesana-kemari, jalan, berdiri, duduk, berkata-kata, diam dll. Meskipun begitu mereka yang berharap tetap patuh karena besarnya harapan akan pemberian.
  19. Tuhan menciptakan berbagai makhluk dengan bentuk, sifat dan keistimewaannya masing-masing, namun satu yang tidak pernah diciptakan oleh Tuhan bahkan hingga hari ini, yakni manusia yang tidak membenci orang yang datang menghamba dengan harapan akan sesuatu secara berlebih-lebihan.
  20. Pengemis yang sangat berharap akan perolehan sesuatu, keadaannya tiada beda dengan orang yang hampir mati, nafasnya tersumbat dikerongkongan, terputus-putus dalam berkata-kata, keringatnya mengucur, gerakannya resah, mukanya pucat; demikianlah keadaan pengemis yang sangat berharap akan sedekah, terlihat persis seperti orang yang hampir mati.