HINDU SOPOYONO: Hari Raya Hindu
OM SVASTI ASTU - SELAMAT DATANG DI SOPOYONO BLOGSPOT
“Aku hendak membagikan apa yang kudengar – itupun jika kau mengizinkan!”
Tampilkan postingan dengan label Hari Raya Hindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hari Raya Hindu. Tampilkan semua postingan

Kamis

Hari Raya Saraswati


Saraswati adalah nama dewi, Sakti Dewa Brahma (dalam konteks ini, sakti berarti istri). Dewi Saraswati diyakini sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsi-Nya sebagai dewi ilmu pengetahuan. Dalam berbagai lontar di Bali disebutkan "Hyang Hyangning Pangewruh."

Di India umat Hindu mewujudkan Dewi Saraswati sebagai dewi yang amat cantik bertangan empat memegang: wina (alat musik), kropak (pustaka), ganitri (japa mala) dan bunga teratai. Dewi Saraswati dilukiskan berada di atas angsa dan di sebe-lahnya ada burung merak. Dewi Saraswati oleh umat di India dipuja dalam wujud Murti Puja. Umat Hindu di Indonesia memuja Dewi Saraswati dalam wujud hari raya atau rerahinan.

Hari raya untuk memuja Saraswati dilakukan setiap 210 hari yaitu setiap hari Sabtu Umanis Watugunung. Besoknya, yaitu hari Minggu Paing wuku Sinta adalah hari Banyu Pinaruh yaitu hari yang merupakan kelanjutan dari perayaan Saraswati. Perayaan Saraswati berarti mengambil dua wuku yaitu wuku Watugunung (wuku yang terakhir) dan wuku Sinta (wuku yang pertama). Hal ini mengandung makna untuk mengingatkan kepada manusia untuk menopang hidupnya dengan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari Sang Hyang Saraswati. Karena itulah ilmu penge-tahuan pada akhirnya adalah untuk memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewi Saraswati.

Tatacara Pelaksanaan Upacara Siwaratri

  1. Pengertian.
    Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa. Hari Siwaratri mempunyai makna khusus bagi umat manusia, karena pada hari tersebut Sang Hyang Siwa beryoga. Sehubungan dengan itu umat Hindu melaksanakan kegiatan yang mengarah pada usaha penyucian diri, pembuatan pikiran ke hadapan Sang Hyang Siwa, dalam usaha menimbulkan kesadaran diri (atutur ikang atma ri jatinya). Hal itu diwujudkan dengan pelaksanaan brata berupa upawasa, monabrata dan jagra. Siwarâtri juga disebut hari suci pajagran.

Sabtu

Apa Perbedaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali?

Adanya perayaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali menjelang hari raya Galungan dan Kuningan harus diakui belum begitu dipamahi konsepsinya oleh umat. Hanya sering disebutkan bahwa konsepsi Sugihan itu disebutkan sebagai penghormatan kepada batara-batari yang berstana di sanggah (merajan) dan penghormatan kepada leluhur. Namun, di balik rutinitas upacara tersebut sebenarnya ada makna mendalam terkait dengan persiapan umat Hindu secara spiritual sebelum memasuki hari raya Galungan. Tetapi dengan adanya perbedaan kata di belakang sugihan yakni Jawa dan Bali tentu saja melahirkan pertanyaan kenapa bisa muncul dua nama itu? Adakah kaitannya dengan asal-muasal dari mereka yang merayakan masing-masing sugihan tersebut? Lantas bagaimanakah sesungguhnya makna dari sugihan itu sendiri?

Jumat

“Tumpek Pengatag ” Menyambut Galungan

Tumpek pengatag/ wariga merupakan salah satu hari raya umat hindu di bali yang diperingati 25 hari sebelum hari raya galungan yang bertepatan pada hari saniscara kliwon wuku wariga dalam kalender caka (kalender di bali). Tumpek wariga merupakan hari dimana umat hindu di bali menghaturkan sesajen kepada tumbuh-tumbuhan yang ada di bumi sebagai rasa syukur manusia atas segala kelimpahan makanan dan banyak fungsi dari tumbuh-tumbuhan yang membantu kehidupan manusia.
Namun saking banyaknya tumbuh-tumbuhan yang ada di bumi ini, tidaklah semua tumbuhan di beri sesajen. Hanya beberapa tumbuhan yang mewakili semua tumbuhan yang ada di muka bumi ini saja yang di haturkan sesajen. Sesajen itu berupa tipat gatep (ketupat yang dibuat dari janur menyerupai dadu) dan seperangkat sesajen khusus.

Rabu

Upacara Purnama

Upacara Purnama adalah pemujaan terhadap dewa Chandra dan merupakan hari suci bagi umat Hindu di Bali, Upacara Purnama ini bermakna memohon berkah dan karunia dari Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) yang telah menerangi dunia beserta isinya. Sesuai dengan namanya pelaksaan Upacara ini berlangsung saat bulan Purnama yaitu jatuh setiap malam bulan penuh (Sukla Paksa), dan hari suci ini dirayakan setiap 15 hari sekali.

Upacara Tilem

Upacara Tilem bermakna sebagai upacara pemujaan terhadap Dewa Surya, pada saat upacara tilem ini dilaksanakan sembahyang dan pemujaan memohon berkah dan karunia dari Hyang Widhi. Upacara Tilem dilakukan setiap malam pada waktu bulan mati (Krsna Paksa), 30 hari sekali.

Selasa

Mecaru

Upacara Mecaru bisa juga disebut Butha Yadnya, ini adalah suatu upacara untuk menjaga mengharmoniskan hubungan antara manusia dengan alam lingkungan sekitarnya, sementara caru sendiri arti nya cantik atau harmonis (kitab Samhita Swara). Mecaru ini dilaksanakan Sehari sebelum hari raya Nyepi, tepat pada bulan mati (tilem).

Kajeng Kliwon

Kajeng Kliwon

Upacara Kajeng Kliwon diperingati setiap 15 hari sekali yaitu pada saat pertemuan Triwara Kajeng dengan Pancawara Kliwon. Kajeng Kliwon termasuk dalam upacara Dewa Yadnya, Dewa Yadnya sendiri mempunyai arti upacara korban suci/persembahan yang tulus ikhlaskepada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dan seluruh manifestasi- Nya.

Kamis

Hari Raya Nyepi dan Tahun Saka

Hari Raya Nyepi dan Tahun Saka

Weda Sruti merupakan sumber dari segala sumber ajaran Hindu. Weda Sruti berasal dari Hyang Maha Suci/Tuhan Yang Maha Esa (divine origin). Mantra Weda Sruti tidak dapat dipelajari oleh sembarang orang. Karena mantra-mantranya ada yang bersifat pratyaksa (yang membahas obyek yang dapat diindra langsung oleh manusia), ada yang bersifat adhyatmika, membahas aspek kejiwaan yang suci (atma) dan ada yang bersifat paroksa, yaitu yang membahas aspek yang tidak dapat diketahui setelah disabdakan maknanya oleh Tuhan. Tingkatan isi Weda yang demikian itu menyebabkan maharsi Hindu yang telah samyajnanam membuat buku-buku untuk menyebarkan isi Weda Sruti agar mudah dicerna dan dipahami oleh setiap orang yang hendak mempelajarinya. Kitab yang merupakan penjabaran Weda Sruti ini adalah Upaveda, Vedangga, Itihasa dan Purana. Semua kitab ini tergolong tafsir (human origin). 

Budha Kliwon Dungulan

Sejarah Hari Raya Galungan masih merupakan misteri. Dengan mempelajari pustaka-pustaka, di antaranya Panji Amalat Rasmi (Jaman Jenggala) pada abad ke XI di Jawa Timur, Galungan itu sudah dirayakan. Dalam Pararaton jaman akhir kerajaan Majapahit pada abad ke XVI, perayaan semacam ini juga sudah diadakan. Menurut arti bahasa, Galungan itu berarti peperangan. Dalam bahasa Sunda terdapat kata Galungan yang berarti berperang.

Hari Raya Saraswati


Hari Raya Saraswati bagi umat Hindu di Indonesia dirayakan setiap 210 hari sekali menurut kalender Jawa Bali, yakni pada setiap Saniscara Umanis Watugunung.

Arti Kata Sarasvati

Kata Sarasvati dalam bahasa Sanskerta dari urat kata Sr yang artinya mengalir. Sarasvati berarti aliran air yang melimpah menuju danau atau kolam.

Siwa Ratri dan Pengendalian Nafsu

Anggara Wage Wuku Gumbreg bertepatan Sasih Kapitu (Selasa, 23 Januari 2001), merupakan hari suci bagi umat Hindu. Hari tersebut dikenal dengan nama Siwalatri/Siwaratri atau Malam Siwa. Latri berarti malam (gelap). Dan bahkan malam itu adalah malam tergelap dibanding malam-malam lainnya. Kalangan krama Bali beragama Hindu umum menyebutnya "peteng pitu".

Tumpek Pengantang

“Tumpek Pengatag” Menyambut Galungan
Pembelajaran Bagi Umat Hindu dalam Pelestarian Lingkungan
Oleh: I Made Suniarta, Denpasar 

Pada setiap Saniscara Kliwon Wariga, umat Hindu selalu menghaturkan sesajen kehadapan Sanghyang Sangkara sebagai dewanya segala tumbuh-tumbuhan. Pada hari ini ditetapkan dan diberi nama Tumpek Pengarah, Tumpek Penguduh/uduh, Tumpek Pengatag, Tumpek Bubuh oleh umat Hindu merupakan cetusan hatinya yang paling dalam menggambarkan rasa kasih dan sayangnya kepada tumbuh-tumbuhan. Sebab umat Hindu menyadari bahwa dalam menjalani hidupnya di dunia ini tidak bisa berdiri sendiri (individu) tetapi selalu membutuhkan orang lain sebagai teman untuk mengarungi hidupnya sampai pada tujuannya yang terakhir, maka itu manusia disebut sebagai mahluk sosial. Karena manusia selalu membutuhkan orang lain sebagai teman maka muncullah konsep dalam agama Hindu yang disebut dengan Tri Hita Karana yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan lingkungannya. Kemudian hubungan manusia dengan lingkungan timbul pemikiran umat Hindu untuk ditetapkan sebagai hari raya yang disebut Tumpek Pengatag/Tumpek Uduh.

Galungan dan Kuningan

Hari Raya Galungan dan Kuningan

Kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis. 

Pagerwesi

Hari Raya Pagerwesi

Kata "pagerwesi" artinya pagar dari besi. Ini me-lambangkan suatu perlindungan yang kuat. Segala sesuatu yang dipagari berarti sesuatu yang bernilai tinggi agar jangan mendapat gangguan atau dirusak. Hari Raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut magehang awak. Nama Tuhan yang dipuja pada hari raya ini adalah Sanghyang Pramesti Guru.